Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup
Perubahan tren pakaian yang berlangsung sangat cepat membuat industri fesyen berkembang dengan cara yang berbeda dari masa lalu. Pakaian baru tidak lagi selalu dibuat untuk digunakan selama bertahun-tahun. Sebaliknya, banyak produk dirancang mengikuti tren singkat, diproduksi dalam jumlah besar, lalu digantikan ketika model baru muncul. Pola tersebut membuat konsumsi pakaian meningkat sekaligus memperbesar penggunaan bahan baku, air, energi, bahan kimia, dan ruang pembuangan. Mengapa Tren Fast fashion terus menjadi perhatian dalam isu lingkungan? Pola produksi pakaian yang cepat dan murah membuat penggunaan bahan baku, air, energi, serta jumlah limbah tekstil ikut meningkat. EEA mencatat bahwa konsumsi tekstil memiliki tekanan besar terhadap penggunaan air, lahan, bahan baku, dan emisi gas rumah kaca.
Masalahnya, dampak sebuah pakaian tidak berhenti ketika barang tersebut keluar dari toko. Jejak lingkungan sudah muncul sejak serat diproduksi, kain dibuat, pakaian dicelup, kemudian dikirim ke berbagai negara. Setelah dibeli, pakaian juga membutuhkan air dan energi saat dicuci serta dikeringkan. Ketika akhirnya dibuang, material yang sulit didaur ulang dapat kembali menjadi persoalan baru. European Environment Agency (EEA) menempatkan konsumsi tekstil sebagai salah satu kategori konsumsi rumah tangga dengan tekanan lingkungan dan iklim yang tinggi. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup dari Hulu
Dampak lingkungan pakaian sebenarnya dimulai jauh sebelum kain menjadi sebuah kemeja, celana, jaket, atau rok. Industri tekstil membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar, baik dari serat alami maupun serat sintetis. Kapas, misalnya, membutuhkan lahan dan air untuk proses budidayanya. Sementara itu, polyester dan serat sintetis lainnya dibuat dari bahan baku berbasis fosil serta membutuhkan energi dalam proses produksinya. Karena itu, tidak ada satu jenis serat yang otomatis bebas dari persoalan lingkungan. (Agensi Lingkungan Eropa)
Persoalan menjadi lebih besar ketika pakaian diproduksi dalam volume tinggi dan masa penggunaannya pendek. Setiap pakaian baru berarti ada tambahan kebutuhan terhadap serat, pewarna, energi, air, kemasan, serta transportasi. Jika barang tersebut hanya digunakan beberapa kali sebelum tersisih, sumber daya yang digunakan untuk membuatnya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian, persoalannya bukan hanya mengenai bahan pakaian, tetapi juga mengenai seberapa banyak pakaian diproduksi dan berapa lama pakaian tersebut benar-benar digunakan.
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup Melalui Penggunaan Air
Air merupakan salah satu sumber daya penting dalam rantai produksi tekstil. Air digunakan pada berbagai tahapan, mulai dari menghasilkan serat tertentu hingga proses pencelupan dan penyelesaian kain. Setelah itu, air juga digunakan ketika konsumen mencuci pakaian di rumah. Jadi, kebutuhan air tidak hanya muncul di pabrik, tetapi berlangsung sepanjang siklus hidup produk.
Besarnya kebutuhan tersebut terlihat dari data EEA. Untuk konsumsi tekstil rumah tangga di Uni Eropa pada 2022, sekitar 5,3 miliar meter kubik air biru diperlukan untuk menghasilkan pakaian, alas kaki, dan tekstil rumah tangga yang dibeli. Angka tersebut setara dengan sekitar 12 meter kubik per orang. Data itu menunjukkan bahwa pakaian memiliki jejak sumber daya yang jauh lebih luas daripada sekadar benda yang terlihat di dalam lemari. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup Melalui Pewarna dan Bahan Kimia
Warna dan karakter kain yang menarik membutuhkan berbagai proses kimia. Dalam pembuatan tekstil, bahan kimia dapat digunakan untuk pewarnaan, pemutihan, pelapisan, pencetakan, serta proses penyelesaian lainnya. Karena itu, limbah cair dari industri tekstil perlu dikelola dengan baik agar zat pencemar tidak masuk ke sungai dan ekosistem perairan.
Masalahnya, pencemaran tidak selalu terlihat seperti tumpahan limbah yang dramatis. Zat kimia tertentu dapat terbawa melalui air limbah dan memberikan tekanan pada lingkungan apabila pengolahan tidak memadai. Selain itu, beberapa tekstil juga dapat mengandung bahan kimia yang menjadi perhatian karena sifatnya sulit terurai. EEA mencatat bahwa keberadaan PFAS pada sebagian produk tekstil menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan daur ulang dan membangun sistem tekstil yang lebih sirkular. (Agensi Lingkungan Eropa)
Produksi Massal Membuat Penggunaan Bahan Baku Terus Meningkat
Harga pakaian yang rendah dapat membuat konsumen lebih mudah membeli beberapa barang sekaligus. Ketika tren berubah, pakaian yang masih layak digunakan bisa dianggap tidak menarik lagi. Akibatnya, kebutuhan terhadap produksi baru terus muncul meskipun pakaian lama belum tentu benar-benar rusak.
Skala penggunaan bahan bakunya pun sangat besar. EEA memperkirakan bahwa konsumsi pakaian, alas kaki, dan tekstil rumah tangga oleh rumah tangga Uni Eropa pada 2022 menggunakan sekitar 234 juta ton bahan baku. Jumlah tersebut mencakup berbagai material, seperti minyak, gas alam, dan serat kapas. Sekitar dua pertiga bahan tersebut diekstraksi atau diproduksi di luar Eropa. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup: Serat Sintetis dan Masalah Mikroserat
Polyester, nylon, dan beberapa serat sintetis lain banyak digunakan karena sifatnya ringan, kuat, serta relatif mudah diproduksi dalam skala besar. Namun, material berbasis plastik juga memiliki konsekuensi tersendiri. Ketika kain sintetis dicuci, gesekan dapat menyebabkan serat berukuran sangat kecil terlepas dari permukaan pakaian.
Partikel tersebut dikenal sebagai mikroserat tekstil dan dapat terbawa bersama air limbah. EEA menyebut tekstil sintetis sebagai salah satu sumber mikroplastik yang dapat masuk ke lingkungan perairan. Bahkan, pelepasan mikroserat tidak hanya terjadi ketika pakaian dicuci. Proses produksi, penggunaan sehari-hari, pengeringan, dan pembuangan juga dapat menjadi jalur pelepasan. (Agensi Lingkungan Eropa)
Hal ini menjadi semakin relevan pada pakaian yang cepat diganti. Pakaian baru cenderung mengalami beberapa kali pencucian pertama dalam waktu relatif singkat. EEA menjelaskan bahwa pelepasan mikroserat dari tekstil sintetis dapat cukup tinggi pada beberapa kali pencucian awal. Karena itu, siklus membeli, memakai sebentar, mencuci, lalu mengganti pakaian dapat memperbesar frekuensi pelepasan serat ke lingkungan. (Agensi Lingkungan Eropa)
Transportasi Juga Menambah Jejak Karbon
Pakaian modern sering melewati rantai pasok yang panjang. Bahan mentah dapat berasal dari satu negara, dipintal di negara lain, kemudian kain diproses dan pakaian dirakit di lokasi berbeda. Setelah itu, produk dikirim menuju gudang, toko, atau konsumen yang berada di negara lain. Setiap tahap membutuhkan energi untuk memindahkan material dan produk.
Transportasi memang bukan satu-satunya sumber emisi dalam industri tekstil. Energi yang digunakan untuk memproduksi serat, menjalankan mesin, memanaskan air, mengeringkan kain, serta menjalankan fasilitas produksi juga berkontribusi. UNEP memperkirakan sektor tekstil menghasilkan sekitar 2–8 persen emisi gas rumah kaca global. Rentang tersebut menunjukkan adanya ketidakpastian berdasarkan batasan penghitungan, tetapi tetap menggambarkan besarnya skala dampak sektor ini. (UNEP – UN Environment Programme)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup: Pakaian yang Tidak Terjual Juga Menjadi Persoalan
Produksi berlebihan menciptakan masalah yang lebih rumit ketika barang tidak pernah digunakan. Pakaian yang tidak terjual, misalnya, tetap membutuhkan bahan baku dan energi meskipun akhirnya tidak memberikan masa penggunaan kepada konsumen. Bahkan, pengelolaan barang yang dikembalikan atau tidak terjual juga dapat menghasilkan emisi.
EEA memperkirakan sekitar 4–9 persen produk tekstil yang dipasarkan di Eropa dihancurkan tanpa pernah digunakan sesuai tujuan awalnya. Pengolahan dan penghancuran produk yang dikembalikan maupun tidak terjual diperkirakan dapat menghasilkan emisi hingga 5,6 juta ton CO₂ ekuivalen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan tidak hanya muncul dari pakaian yang dibuang setelah digunakan. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup Saat Pakaian Dibuang
Pada tahap akhir, pakaian yang sudah tidak digunakan harus masuk ke sistem pengelolaan limbah. Idealnya, barang yang masih layak dipakai dapat digunakan kembali. Material tertentu juga dapat didaur ulang menjadi bahan baru. Namun, kondisi pakaian, campuran serat, pewarna, aksesori, serta kualitas material dapat membuat proses tersebut tidak sederhana.
Data UNEP menunjukkan bahwa dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Model produksi dan konsumsi linear, yaitu mengambil bahan baku, membuat produk, menggunakannya sebentar, kemudian membuangnya, menjadi salah satu penyebab meningkatnya timbunan tersebut. UNEP juga menekankan bahwa volume produksi dan konsumsi tekstil meningkat sehingga dampaknya dapat melampaui kemajuan yang dibuat dalam praktik keberlanjutan. (WeDocs)
Mengapa Daur Ulang Tekstil Tidak Semudah Daur Ulang Botol Plastik
Daur ulang pakaian memiliki tantangan teknis yang cukup berbeda. Sebuah kaus, misalnya, dapat terdiri dari campuran beberapa jenis serat. Selain itu, pakaian memiliki benang, jahitan, pewarna, lapisan, resleting, kancing, dan elemen lain yang harus dipisahkan atau diproses.
Karena itu, pakaian tidak selalu dapat diubah menjadi pakaian baru dengan mudah. EEA mencatat bahwa pada 2017, kurang dari 1 persen tekstil dunia diperkirakan didaur ulang menjadi produk tekstil baru. Perkembangan teknologi memang membuka peluang untuk meningkatkan angka tersebut, tetapi peningkatan kapasitas pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan tetap diperlukan. (Agensi Lingkungan Eropa)
Konsumsi Lebih Banyak Tidak Selalu Berarti Penggunaan Lebih Lama
Salah satu persoalan penting terletak pada hubungan antara frekuensi membeli dan lama penggunaan. Pakaian yang sangat murah dapat mengurangi hambatan untuk melakukan pembelian spontan. Ketika pakaian mudah diganti, keputusan untuk memperbaiki pakaian lama juga dapat terasa kurang menarik secara ekonomi.
Padahal, memperpanjang masa penggunaan sebuah pakaian dapat mengurangi kebutuhan untuk membeli barang pengganti dalam waktu dekat. Sistem yang lebih sirkular justru berusaha mempertahankan produk dan material selama mungkin melalui penggunaan ulang, perbaikan, serta daur ulang. EEA juga menekankan bahwa penggunaan produk lebih lama, penggunaan kembali, dan peningkatan daur ulang dapat membantu mengurangi tekanan lingkungan dari tekstil. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengapa Tren Fast Fashion Sangat Merusak Lingkungan Hidup: Dampaknya Tidak Hanya Berasal dari Konsumen
Pembahasan mengenai pakaian sering kali terlalu berfokus pada kebiasaan pembeli. Padahal, konsumen tidak mengendalikan seluruh rantai produksi. Desain pakaian, kualitas bahan, jumlah produksi, sistem distribusi, transparansi pemasok, hingga fasilitas pengolahan limbah berada dalam lingkup keputusan industri dan pembuat kebijakan.
Karena itu, perubahan pola konsumsi saja tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan. Produsen dapat merancang pakaian yang lebih tahan lama dan mudah diperbaiki. Sistem pengumpulan juga perlu dibuat agar pakaian bekas tidak langsung masuk ke sampah campuran. Sementara itu, kebijakan dapat mendorong desain yang lebih mudah digunakan kembali dan didaur ulang. (Agensi Lingkungan Eropa)
Cara Mengurangi Dampak dari Lemari Pakaian
Dari sisi konsumen, salah satu langkah paling sederhana adalah menggunakan pakaian yang sudah dimiliki selama mungkin. Membeli barang baru ketika memang dibutuhkan juga dapat mengurangi permintaan terhadap produksi tambahan. Selain itu, memilih pakaian yang dapat dipadukan dengan banyak busana membuat satu barang memiliki lebih banyak kesempatan untuk digunakan.
Perawatan juga berpengaruh. Mencuci sesuai kebutuhan, mengikuti petunjuk perawatan, memperbaiki pakaian yang rusak ringan, serta menyimpan pakaian dengan baik dapat memperpanjang masa pakai. Untuk pakaian sintetis, perhatian terhadap pelepasan mikroserat juga penting karena pencucian merupakan salah satu jalurnya menuju lingkungan. EEA mencatat bahwa teknologi penyaring pada mesin cuci dapat mengurangi pelepasan mikroserat dalam kondisi tertentu. (Agensi Lingkungan Eropa)
Mengubah Cara Melihat Pakaian
Pakaian sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai barang mengikuti tren. Di balik satu potong busana terdapat bahan mentah, air, energi, tenaga kerja, bahan kimia, proses manufaktur, pengemasan, dan transportasi. Semua tahapan tersebut meninggalkan jejak sebelum pakaian akhirnya sampai ke lemari.
Karena itu, persoalan lingkungan dalam industri fesyen berkaitan erat dengan kecepatan produksi dan kecepatan konsumsi. Semakin singkat sebuah pakaian digunakan, semakin sulit sumber daya yang sudah dikeluarkan untuk produksi tersebut memberikan manfaat dalam jangka panjang. Menggunakan pakaian lebih lama, memperbaikinya ketika rusak, memilih barang yang benar-benar dibutuhkan, serta mendukung sistem penggunaan kembali dapat membantu mengurangi tekanan tersebut.
Pada akhirnya, perubahan yang diperlukan bukan sekadar mengganti satu jenis bahan dengan bahan lain. EEA menilai bahwa peralihan menuju sistem tekstil yang lebih sirkular membutuhkan produk yang lebih tahan lama, dapat diperbaiki, digunakan kembali, dan didaur ulang. Dengan demikian, persoalan lingkungan tidak diselesaikan hanya melalui label tertentu pada pakaian, tetapi melalui perubahan sepanjang siklus hidup produk.
